Forum Merdeka Barat 9 : Terobosan Baru KUR di 2019

Jakarta, Fotoaktris, KementrianKomunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk Terobosan Baru KUR di 2019 di Hotel Harris Vertu, Jakarta Pusat pada Kamis, 4 April 2019 pukul 13:00-15:00 WIB.

Hadir sebagai narasumber Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangann Kemenko Perekonomian: Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah: Yuana Setyawati dan Executive Vice Presiden Bisnis Kecil dan Kemitraan BRI, Hari Purnomo.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangann Kemenko Perekonomian: Iskandar Simorangkir

Diskusi mengangkat potensi perekonomian rakyat di tingkat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu fokus dari pemerintahan Presiden R.I. Joko Widodo. Sedikitnya ada 58 juta orang pelaku UMKM yang memutar roda konsumsi nasionalselama ini. Mereka tersebar di sektor formal dan lebih banyak lagi di sektor informal.

Deputi Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah: Yuana Setyawati

Sumbangan UMKM bagi perekonomian nasional tidak bisa dianggap remeh. Realisasi kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tahun 2018 mencapai sekitar 60,34%. Tahun 2019 ini bahkan diproyeksikan tumbuh sampai 65% atau sekitar Rp 2.394,5 triliun.

Sektor perdagangan masih mendominasi pelaku usaha UMKM hingga mencapai 54,4% pada tahun 2018. Porsi berikutnya dikuasai sektorpertanian, peternakan dan perkebunan sebesar 23%, sisanya adalah Jasa dan pengolahan.

Executive Vice Presiden Bisnis Kecil dan Kemitraan BRI, Hari Purnomo.

Untuk itu pemerintah terus menggenjot pertumbuhan UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini sebagai bukti upaya pemerintah membuka akses pendanaan tambahan agar mereka semakin berkembang . Kendati realisasi penyaluran KUR sepanjang tahun 2018 telah mencapai Rp.120 triliun dengan kredit bermasalah (NPL) tercatat 0,24%, namun porsi penyaluranya masih didominasi sektor perdagangan, itu pun usaha mikro menerima pembiayaan terbesar.

 Realisasi penyaluran KUR sektor produksi ini memang naik dari pencapaian 2017 sebesar 42,3%, meski belum mampu memenuhi target yang ditetapkan dalam tahun 2018 sebesar 50%.

Mengacu pada wilayah, penyaluran KUR masih didominasi oleh pelaku usaha di pulau jawa, dengan porsi penyaluran sebesar 55% diikuti dengan pulau Sumatera sebesar 19,4% dan pulau Sulawesi sebesar 11.1%.

Sasaran KUR bukan sekadar menggelontorkan dana murah, namun juga peruntukanya tepat sasaran serta mengangkat perekonomian lokal. Diperlukan terobosan-terobosan brilian agar pelaku usaha semakin mudah mengembangakn bisnis mereka ke level lebih tinggi (Naik Kelas). Mulai tahun 2017 pemerintah mengeluarkan skema KUR khusus bagi kelompok usaha perikanan rakyat, perkebunan rakyat dan peternakan rakyat. Kelompok usaha ini bisa mendapatkan plafon pembiayaan hingga Rp. 500 juta .

Hadir sebagai narasumber Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangann Kemenko Perekonomian: Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah: Yuana Setyawati dan Executive Vice Presiden Bisnis Kecil dan Kemitraan BRI, Hari Purnomo, Kamis, 4 April 2019 pukul 13:00-15:00 WIB di Hotel Harris Vertu, Jakarta Pusat

Adapun mulai tahun 2018, sektor pariwisata juga disentuh oleh kebijakan KUR ini. Skema KUR pariwisata ini di khususkan bagi usaha produktif yang mendukung bisnis turisme di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.

Lalu bagaimana efektivitas kebijakan KUR di tengah lesunya haraga komoditas untuk pasar ekspor?

Apakah KUR dipakai untuk mengembangakan UMKM pemula dengan pemasaran platform digital dan jasa kurir?

Bagaimana dampak dari pengurangan pajak penghasilan (Pph) bagi kinerja UMKM yang memakai dana KUR? 

Apa Rencana pemerintah dengan alokasi anggaran KUR senilai Rp 140 triliun pada tahun 2019 ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *